Jumat, 20 Juni 2014

Merevitalisasi Ulos Batak Yang Hampir Punah


http://dyahpamelablog.files.wordpress.com/2013/04/386547_2488974581476_101159835_a.jpg?w=180&h=240
Bagi Restu Alam Pakpahan (37), deretan kain tenun Ulos di galerinya bukanlah kain tenun biasa. Disetiap detail motif tenunan pengrajin kain Ulos ada makna sejarah peradaban budaya orang Batak, tanah tempat kelahirannya.Penggagas revitalisasi kain Ulos tradisional, kelahiran tahun 1974 ini tergerak hatinya untuk kembali membangkitkan Ulos Batak yang hampir punah.

“Ini motif Ulos Mangiring, diberikan ke anak agar dia punya adik, kalau yang ini motif Ulos Bintang Meratur yang menggambarkan harapan atau pencapaian” kata Restu.

Sementara dia masih memperlihatkan berbagai macam kain Ulos koleksi di galerinya dia juga menerangkan makna dari masing-masing motif Ulos yang berasal dari daratan tanah Batak itu.

Menurut Restu, ada lebih dari 50 jenis motif Ulos, itu pun belum termasuk turunan-turunan motifnya. Setiap motif Ulos memiliki arti tersendiri, Ulos pada jaman dahulu memang merupakan media untuk doa bagi pemberi dari Tuhan kepada sang penerima.

Motif Ulos bagi yang tidak mengenalnya memang terlihat biasa saja, atau bahkan kurang seninya, motifnya hanya berbentuk garis, yang melebar kemudian menyempit. Tapi dibalik motif-motif Ulos ada kekayaan budaya dan peradaban yang penting bagi tanah Batak.

“Kalau yang ini motif Manumpuan, hanya ada tiga orang yang bisa membuatnya di tanah batak tepatnya di Kecamatan Muara, paling sulit membuatnya karena tenun ikat,” Ujarnya lagi.

Setiap daerah tertentu di Batak memiliki khasnya sendiri dalam membuat Ulos. Seperti misalnya di Tarutong tekniknya hebat tapi kimia, di Samosir sejarahnya hebat kalau buat Ulos disana sudah pasti laku karena sejarahnya hebat, sedangkan di Muara tidak ada apa-apa, teknik biasa saja tapi dibuat revitalisasi Ulos dengan kekuatan warna alam.

Restu mengungkapkan, saat ini memang masih ada penenun Ulos tapi banyak yang hanya bisa menenun, tidak bisa membuat tenun ikat, bahan untuk membuat Ulos sendiri adalah katun pada saat sekarang, kalau dulu dibuat dari kapas asli. Pengrajin ulos tradisi sudah sedikit jumlahnya karena tidak laku dipasaran dan perlu waktu lama untuk membuatnya.

Bila kain Ulos dengan warna kimia bisa dikerjakan selama 2 hari, kain Ulos dengan warna alam yang warnanya berasal dari tumbuh-tumbuhan hanya celup benangnya saja bisa menghabiskan waktu sampai 3 minggu, ditambah menenunnya 2 hari.

Artinya usaha untuk menenun kain Ulos tradisional memang sangat tidak sepadan dengan harga penjualan Ulos itu sendiri. Kain Ulos dengan pewarnaan kimia hanya dihargai Rp.250 ribu, itu pun sudah termasuk modalnya semua.

Maka sejak tahun 2010 lalu, Restu mulai melakukan revitalisasi Ulos tradisional Batak. Jiwanya makin terpangil saat seorang antropolog asal Belanda, Alumni Universitas Leiden, Sandra Niessen, memberikan buku hasil penelitian gelar doktornya mengenai tekstil tradisional di tanah Batak, dimana Sandra menginginkan agar hasil penelitiannya tersebut bermanfaat dan bisa dipelajari oleh orang Batak sendiri untuk mengenal dan melestarikan dan kembali membuat Ulos seperti sehebat dulu.

Ulos atau sering juga disebut kain ulos adalah salah satu busana khas Indonesia. Ulos secara turun temurun dikembangkan oleh masyarakat Batak, Sumatera. Dari bahasa asalnya, Ulos berarti kain. Cara membuat Ulos serupa dengan cara membuat songket khas Palembang, yaitu menggunakan alat tenun bukan mesin. Warna dominan pada ulos adalah merah, hitam, dan putih yang dihiasi oleh ragam tenunan dari benang emas atau perak.

Sebagian besar ulos telah punah karena tidak diproduksi lagi, seperti Ulos Raja, Ulos Ragi Botik, Ulos Gobar, Ulos Saput (ulos yang digunakan sebagai pembungkus jenazah), dan Ulos Sibolang, karena motif Ulos yang diminta hanya yang itu-itu saja. Permintaan pasar, pemangkasan-pemangkasan adat, kecintaan generasi muda di tanah Batak sendiri terhadap kain Ulos yang juga semakin berkurang membuat tenun ikat maupun tenun Ulos ini semakin mendekati kepunahannya.

Saat ini ada sekitar 80 penenun yang rata-rata berusia antara 40-50 tahun yang akan dibina, sementara menurut Restu, bagi generasi muda lebih banyak yang tertarik untuk pergi bekerja ke Batam untuk mencari uang.

Dengan bantuan forum anak dan kerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, diharapkan akan ada generasi penerus yang sadar untuk lebih mengenal dan melestarikan kekayaan budaya peradabannya.


Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari mengungkapkan jenis antik dan klasik dari Ulos Batak saat ini memang sudah sangat langka. Sehingga menurut dia budaya menenun Ulos harus dibangkit kembali. 

“Saat ini perhatian kepada tenun ulos sudah sangat kurang di kampungnya karena dianggap pekerjaan yang tidak terlalu menghasilkan secara ekonomi, padahal secara budaya ini sangat tinggi,” imbuhnya, prihatin.

Pusat Batu Granit Dunia Itu di Bellitung

Negeri Serumpun Sebalai, sebutan Bangka Belitung yang berarti Bangsa serumpun yang duduk dalam balai (tempat kumpul) yg sama. Keduanya merupakan dua pulau terpisah namun memiliki kesamaan akar budaya.

Dua pulau ini belakangan menjadi primadona kunjungan wisata, domestik maupun mancanegara. Terkenal berkat keindahan pantai yang diatasnya terdapat kumpulan batu-batu granit beraneka macam ukuran, mulai dari yang kecil hingga sebesar rumah.

Entah dari mana datangnya batu-batu itu tapi menurut cerita, Bangka Belitungadalah pusat batu granit dunia. Bila melihat lagi puluhan meter ke bawah laut, batu granit  hingga ke atas laut masih menancap lagi, mungkin lebih besar lagi. Menurut penelitian 12 km didasar permukaan belitung dipenuhi dgn batu granit, karena itu pernah akan dibangun bangka nuklir untuk pusat nuklir di indonesia yang pertama-tama dibangun di bangka namun sampai sekarang belum dibangun.

Batu granit di Bangka Belitung sudah ada sejak lama. Berkaitan dengan pusat granit dunia, garisnya sudah dimulai dari Brazil, di Negara-negara Asia, di Lampung di daerah pegunungan, tapi di belitung dimana-mana ada, bahkan digunakan untuk batu pondasi rumah. Menurut penduduk saking banyaknya batu granit, saat menggali sumur juga akan ketemu batu granit.

Banyak wisatawan yang keliru saat akan berkunjung ke tempat ini, kebanyakan mengira Bangka Belitung merupakan satu pulau. Ada pula yang mengira jarak antara Bangka dan Belitung cukup dekat, padahal butuh perjalanan laut lebih dari 4jam menggunakan jet foil untuk mencapai Pulau Belitung dari Bangka, sedangkan bila berangkat dari Jakarta menuju Belitung cukup dengan 45 menit perjalanan udara dari Bandara Soekarno Hatta.

1

Jika dibandingkan antara pantai di Bangka dan Belitung, pantai di Pulau Belitung jauh lebih indah. Seperti Pantai Tanjung Tinggi, pantai ini berjarak 31 KM dari kota Tanjungpandan, panjang garis pantainya mencapai lebih dari 20 KM. Pantai Tanjung Tinggi termasuk salah satu pantai yang indah di Belitung, maka tak heran syuting film Laskar pelangi dari Novel karya Andrea Hirata pun dilakukan disini.

Beberapa tahun belakangan memang Belitung banyak dilirik wisatawan sebagai tempat objek wisata. Menurut Edi Nasapta, salah satu Tourist guide di Belitung sebelum kemunculan film Laskar Pelangi sudah banyak wisatawan yang datang ke Belitung. Komunitas-komunitas tertentu seperti komunitas photografer dari luar negeri contohnya jepang, tapi saat ini sudah jarang. Setelah Film Laskar Pelangi siapa pun datang. Perkembangan pariwisatanya pun melonjak tinggi, mengalami kenaikan ribuan persen, banyak hotel2 bermunculan.

“Sekarang wisatawan domestik pun banyak yang datang terutama dari daerah jawa, jogja, surabaya paling terbanyak terutama jakarta,” ungkapnya.

Berada disebelah Pantai Tanjung Tinggi terdapat pula pantai Penyairan yang nantinya akan dibangun Museum Maritim Indonesia. Di bagian utara belitung, sekian puluh kilo meter hingga ke ujung Mungsang potensi wisatanya sudah digarap dan termasuk tempat tujuan tour pulau di Belitung.

Saat ini wisata di Belitung masih terbatas wisata bahari, seperti wisata pantai, menyelam, dan snorkling. Gugusan  terumbu karangnya memang tidak sebagus yang ada di Papua. Snorkling di sekitar pulau lengkuas masih sepersepuluh dari yang ada di Pulau Mindanau yang khusus untuk diving, hanya saja Belitung untuk alam bawah lautnya yang terbaiknya justru ada di belitung timur, daerah pulau mempaya. Daerah di Belitung Timur ini yang belum digarap. Padahal potensinya besar sekali.

Potensi yang besar itu memang sedang digiatkan pemerintah, salah satunya dengan menyelenggarakan even internasional Sail Belitung dan Sail Wakatobi yang dilakukan secara bersamaan pada 5-12 Oktober 2011 mendatang, pembukaanya dipilih oleh Presiden di Belitung. Ada banyak kegiatan dalam even Sail Belitung, seperti catur bawah laut yang dipersiapkan oleh Persatuan Olah raga Selam Seluruh Indonesia (POSSI).

Diperkirakan akan ada banyak turis asing yang datang untuk berkunjung dalam even Sail Belitung. Tanjung Kelayang sebagai tempat mendarat ratusan kapal-kapal layar dari berbagai penjuru dunia sengaja dipilih karena keindahannya. Tanjung Kelayang dikelilingi pulau-pulau kecil. Disini ada 7 pulau yang dijadikan tujuan kunjungan turis. Seperti Pulau pasir, pulau kepayang, pulau Burung, dan pulau Lengkuas yang ditandai dengan mercusuar yang sudah dibangun sejak tahun 1882.


Potensi pariwisata di Belitung masih tak terhitung jumlahnya, belum semuanya tergali. Masyarakatnya pun hanya sekelumit kecil  yang mengandalkan ekonominya dari sektor pariwisata. Transportasi bagi wisatawan di Belitung pun belum terjangkau. Untuk berkeliling Belitung, wisatawan harus menyewa mobil yang harga sewanya bisa mencapai 500ribu per hari. (dyah ayu pamela)

Sekolah di Pulau Terpencil, Meosmanggara, Papua Barat

Kurikulum Selalu Tertinggal – Sekolah di Pulau Terpencil, Meosmanggara, Papua Barat

Di pinggir dermaga Pulau Meosmanggara, salah satu pulau di Distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Sekumpulan anak tengah memancing ikan, tempat dimana terik matahari menambah silau pemandangan kehidupan dalam laut yang bisa dilihat dengan telanjang mata, pasir putih dibias dengan birunya langit, bening, beragam jenis ikan berenang diatasnya.

http://dyahpamelablog.files.wordpress.com/2013/03/anakpulaumeosmanggara.jpg?w=490

Bibir pantai sekitar Pulau Meosmanggara, penuh dengan ikan-ikan yang berenang berkelompok, dengan beberapa anak yang menjadikan laut sebagai lapangan bermainnya sehabis pulang sekolah. Mereka adalah siswa SD YPK. Matias Yeremia, satu-satunya sekolah yang ada di Meosmanggara.

Kisah mengenai sekolah yang bangunannya sederhana atau terbatas gurunya ternyata bukan hanya satu cerita di novel, Andrea Hirata. Bagi masyarakat di beberapa pulau di Kabupaten Raja Ampat, seperti di Pulau Meosmanggara, Manyaifun, Bincai, Mutus, dan Pulau kecil lainnya dengan jumlah penduduk rata-rata 250 hingga 300 orang, keterbatasan fasilitas dan akses pendidikan nyata ada.

http://dyahpamelablog.files.wordpress.com/2013/03/bincai252cwaigeobarat.jpg?w=392&h=257

Wajar apabila keadaanya demikian, wilayah Kabupaten Raja Ampat sebagian besar adalah kampung-kampung atau desa yang terpisah oleh lautan. Setiap pulau merupakan satu kampung yang hanya dihuni oleh
sekitar 35 Kepala Keluarga. 

Transportasi laut satu-satunya yang menjangkau penduduk untuk menakses apapun kebutuhan mereka, uniknya sebagian besar informasi di dapat masyarakat masing-masing pulau yang tidak terjangkau BTS mengenai musyawarah adat maupun berita gempa didapat melalui siaran radio RRI.

Alex Mamrasa, Kepala sekolah SD YPK. Matias Yeremia,mengemukakan salah satu kendala yang dihadapi adalah menyangkut buku-buku pelajaran yang diberikan oleh Dinas Pendidika yang kadang tidak sesuai dengan kurikulum pendidikan di Kabupaten Raja Ampat. 

“Tidak sesuai dengan kurikulum dan tidak relevan, sehingga tidak dipakai, ditinggal saja,” ungkapnya.

Penduduk asli pulau Meosmanggara ini mengungkapkan, sekolah yang sudah 20 tahun berdiri tersebut memiliki 6 guru termasuk dirinya yang mengajar 9 bidang study untuk 90 murid mulai dari kelas satu hingga kelas enam. Namun saat ini hanya ada tiga guru yang aktif mengajar. 

“Karena sedang mengikuti pelatihan di kota Sorong, sehingga dalam satu guru harus mengajar dua kelas dalam waktu bersamaan,” ujar Alex.

Anak-anak di Pulau Meosmanggara biasa memancing pada siang hari untuk dikonsumsi sendiri, sehingga sekolah hanya dimungkinkan berlangsung pada pagi hingga siang hari. Sekolah dimulai pukul 7.15, untuk siswa kelas satu dan dua mauk hingga pukul 9.30, siswa kelas tiga masuk hingga pukul 11, sedangkan siswa kelas empat hingga enam masuk sekolah hingga pukul 12.30.

Hanya ada sekolah SD di Pulau Meosmanggara, juga Pulau-Pulau kecil lain di Distrik Waigeo Barat Kabupaten Raja Ampat. Seperti di Pulau Manyaifun dan Pulau Bincai yang sekolah SD nya baru berdiri selama 2 tahun. Untuk melanjutkan ke SMP, anak-anak Pulau ini harus menyeberang ke Pulau Mutus dengan jarak tempuh sekitar 30 menit hingga satu jam tergantung kondisi cuaca saat itu. Sedangkan untuk melanjutkan ke SMA anak-anak ini harus ke dekat pusat kota atau ke pulau-pulau besar di Papua Barat dengan jarak tempuh hampir 2 jam dalam kondisi cuaca baik.

Meski mengalami hambatan akses transportasi dan jangkauan, Alex mengungkapkan ada juga anak didiknya yang berhasil menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. 

“Sekarang saya punya anak didik yang sudah semester tujuh, ada tiga,” tukasnya.

Saat ini diungkapkannya fasilitas olah raga di sekolahnya sudah mencukupi, namun butuh permainan alat peraga untuk bidang studi matematika. “Kalau kelas satu dan dua kan kita menuju yang matematis,” ujar Alex.

Kabupaten Raja Ampat memiliki 610 pulau. Empat terbesar diantaranya yakni Pulau Misool, Salawati, Batanta, dan Waigeo. Dari seluruh pulau hanya 35 pulau yang berpenghuni, sedangkan pulau lainnya tidak berpenghuni dan belum memiliki nama. Sebagai daerah kepulauan, satu-satunya transportasi antar pulau dan penunjang kegiatan masyarakat Raja Ampat adalah angkutan laut.


#Tulisan pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia (Koran Sindo) edisi Sabtu, 19 Maret 2011